Kamis, 26 Januari 2017

World Economy Forum (WEF) vs World Social Forum (WSF)

Di kedua organisasi ini, kata “economy” seolah dipertentangkan dengan “social” sebagaimana cara berfikir banyak orang. Namun, sesungguhnya ga begitu juga. “Social” di WSF mencakup “economy” juga, sebagaimana ilmu sosial mencakup ilmu ekonomi juga. WSF bukan anti pembangunan ekonomi, namun mereka ingin pembangunan ekonomi yang lebih berkemanusiaan, lebih perduli lingkungan, dan lebih bermartabat.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) adalah sebuah yayasan organisasi non profit yang didirikan di Jenewa dan terkenal dengan pertemuan tahunannya di Davos Swiss untuk mendiskusikan masalah penting yang dihadapi dunia. Selain pertemuan, Forum ini menghasilkan beberapa seri laporan penelitian dan melibatkan anggotanya untuk melakukan inisiatif di sektor-sektor tertentu. Di luar forum WEF, banyak aktivis sosial menggelar demonstrasi anti-WEF karena diklaim tidak memperdulikan nasib kaum miskin dan hanya peduli pada kepentingan pemodal.

Ya, Forum Sosial Dunia (World Social Forum) lahir sebagai respon dari keberadaan WED. Mereka juga mengadakan pertemuan tahunan yang diselenggarakan tepat pada waktu yang sama. Mereka sering disebut sebagai anggota sayap kiri gerakan alternatif untuk mengkoordinasi kampanye dunia, menyumbangkan dan menyempurnakan strategi organisasi, dan memberitahu sesama anggota mengenai gerakan dari seluruh dunia tentang berbagai isu. Kedua pertemuan ini biasanya diadakan pada bulan Januari.

Perbedaan antara WEF dengan WSF
Forum ekonomi dunia
Forum sosial dunia

Organisasi ini didirikan pada tahun 1971 oleh Klaus M Schwab, seorang profesor bisinis di Swiss. Awalnya berupa European Management Forum.

WSF pertama berlangsung bulan Januari 2001  di Porto Alegre Brazil.
Dihadiri CEO dan top management perusahaan transnasional, serta 1000 richest and most powerful corporations in the world, global political and financial elite.
Dihadiri berbagai kalangan. Tahun 2001 dihadiri 2.000 orang, sedangkan  tahun 2009 tercatat 100.000 orang. WSF dihadiri para aktivis dari seluruh dunia baik NGO, kelompok kiri, politisi, dan akademisi,  yang bersama dengan masyarakat sipil membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan sistem alternatif globalisasi.
Pesertanya adalah para pemimpin atas bisnis dunia, pemimpin politik seluruh dunia, cendekiawan dan wartawan terpilih.
Diorganisir oleh beberapa group yang terlibat dalam gerakan globalisasi alternatif, disponsori oleh pemerintah Porto Alegre yang dipimpin oleh Partai Pekerja Brazil (PT) termasuk French Association for the Taxation of Financial Transactions for the Aid of Citizens (ATTAC). Anggota komite di antaranya NGO Oxfam, Action Aid, Greenpeace, dan Caritas International.
Topik utamanya ekonomi, namun juga mencakup masalah kesehatan dan lingkungan.
Membicarakan ekonomi namun juga soal perburuhan, air, lingkungan hidup, perdagangan, anti perang, masyarakat adat, perang, resesi ekonomi, dan pemanasan global.
Karena pelakunya adalah pemegang kekuasaan secara politik dan ekonomi, maka implementasi kesepakatannya lebih langsung dan efektif. Mereka melekat di struktur kekuasaan.
Lebih sebagai gerakan kultural anti-neoliberalisme dan anti-imperialisme dengan jargon “Another World is Possible”. Tidak memiliki jenjang hirarkis, lebih terdesentralisasi, dan tanpa struktur.

WSF pertama tahun 2001 diikuti 12.000 orang dari seluruh dunia,  WSF kedua juga di Porto Alegre tahun 2002 yang diikuti lebih dari 12.000 delegasi ofisial yang mewakili 123 negara, 60.000 pengunjung, 652 workshop dan 27 pidato. Salah seroang pembicaranya adalah Noam Chomsky, seorang penulis terkenal AS yang menggambarkan dirinya sebagai pembangkang. Lalu WSF ketiga juga di Porto Alegre Januari 2003. WSF keempat di Kota Mumabi India Januari 2004. Perbedaan kebudayaan yang nyata menjadi salah satu aspek pokok pada forum itu. Keputusan penting lainnya ialah tekad untuk menggunakan perangkat lunak bebas (free software), dan salah satu pembicara utama pada WSF 2004 adalah Joseph E. Stiglitz. WSF kelima tahun 2005 juga di Porto Alegre. Pada tahun 2006, WSF diadakan secara serentak di beberapa kota di seluruh dunia, yakni di Bamako (Mali),  Caracas (Venezuela), serta Karachi (Pakistan).  

WSF telah mendorong lahirnya forum-forum sosial di tingkat regional, termasuk Forum Sosial Eropa, Forum Sosial Asia dan Forum Sosial Boston. Semua forum sosial berpegang kepada Charter of Principles yang telah disusun para anggota WSF.

WSF berkonsentrasi pada kritik terhadap neoliberalisme dan imperalisme.  Platform gerakannya adalah anti-neoliberalisme dan anti-imperialisme (Capdevila, 2007). WSF juga menyatakan tidak setuju dengan isu globalisasi, namun karena globalisasi sudah menjadi fenomena yang tak dapat dielakkan, hampir tidak ada yang membicarakan tentang bagaimana mengatasinya. WSF juga mengangkat kritik yang sama seperti gerakan anti globalisasi, atau lebih tepatnya “alternatif globalisasi”. Globalisasi dan kapitalisme bertanggung jawab pada pemiskinan global. Bagi peserta WSF, globalisasi hanyalah suatu dongeng ideologis, sehingga mereka mengusung semboyan "Another World is Possible".

Namun demikian, ide WSF sendiri juga ada yang mengkritik. Mereka hanya mewakili karakter sayap kiri dan ekstrem kiri, dan hampir tidak ada tempat bagi ide-ide alternatif dan kritik yang berbeda dengan ideologi pengikut WSF. Pembela totalitarian dan rezim anti-demokratik biasanya turut hadir. Pada WSF 2001, para aktivis menyerbu dan menghancurkan kebun transgenik percobaan perusahaan Monsanto.

WSF 2012 mengangkat tema Capitalist Crisis-Social and Environmental Justice”. Forum ini berusaha memberi alternatif terhadap model pembangunan kapitalisme yang sudah terbukti gagal. Gerakan anti-kapitalis juga berlangsung di negeri-negeri kapitalis maju, seperti gerakan “Duduki Wall Street” dan “Los Indignados” di Spanyol. FSD 2012 merupakan tahap persiapan menuju pertemuan pembangunan berkelanjutan “Peoples Summit  of Rio +20”, yang berlangsung pada Juni 2012.

Hasil WSF di antaranya adalah kesepakatan gerakan sosial untuk memperkuat kedaulatan Venezuela melawan agresi imperialis AS, dukungan terhadap Argentina atas klaim kepulauan Falkland, seruan untuk mengakhiri blokade dan embargo terhadap Kuba, menyerukan diakhirinya pendudukan AS di Libya dan Afghanistan, menyerukan diakhirinya praktek neokolonialisme di benua Afrika,  mengutuk praktek anti-demokrasi, dan menyerukan penghancuran total terhadap senjata nuklir. WSF juga mengkritisi proposal PBB tentang “ekonomi hijau” karena dicurigai hanya menjadi cover bagi negeri-negeri kapitalis untuk melegitimasi keberlanjutan eksploitasi terhadap sumber daya alam, termasuk di dunia ketiga. Kampanye "Green Economy" nantinya hanya berujung pada motivasi untuk menjadikan udara, tanah, air, hutan, dan sebagainya sebagai sumber penghasilan baru. Ada proses monetisasi atas alam dalam kampanye yang seolah-olah pro lingkungan tersebut. Kedaulatan pangan juga digerogoti oleh praktik serupa yang seolah-olah cinta lingkungan.

WEF dihadiri petinggi negara dan bisnis membahas krisis ekonomi, namun sering dicurigasi hanya membahas “kepentingan bisnis” mereka. Gerakan Keadilan Air mengkritik kebijakan WEF yang seolah-olah pro lingkungan (mengusung nilai "Green"). WSF ingin mendekonstruksi agenda ekonomi fundamentalis dan menentang dampak buruknya pada nasib warga dunia dan alam. WSF  mengkritisi WEF karena mengagendakan motif ekonomi dan politiknya sendiri.

Prinsip-prinsip dasar perjuangan WSF tertera pada kalimat pembukanya, yakni bahwa forum ini adalah tempat yang demokratis serta terbuka bagi masyarakat sipil untuk saling bertukar pikiran dan informasi guna melawan kapitalisme dan globalisasi. Mereka menyatukan dan membangun jaringan dari organisasi dan gerakan masyarakat sipil dari semua negeri di seluruh dunia, namun tidak berniat menjadi sebuah badan yang mewakili masyarakat sipil dunia. Bisa disebut ini sebatas gerakan kultural. Mereka melakukan aksi-aksi sosial untuk mengkritisi kebijakan untuk isu internasional dan sektoral.


Banyak pihak yang berupaya menjembatani kedua forum ini. Dasar alasannya adalah prinsip-prinsip hak asasi manusia. Ini coba diupayakan oleh organisasi The Human Dignity and Human Rights Caucus (HDHRC) dan bersama 80 NGO lain yang berada dalam kaukus termasuk International Federation of Human Rights Leagues (FIDH), the Netherlands-based Interchurch Organisation for Development Cooperation (ICCO) and Equalinrights, the German churches' organisation Bread for the World, the Habitat International Coalition, and the Lutheran World Federation. “There has been a long-felt need for dialogue between the social expressions that meet in the World Social Forum (WSF) and the actors that meet in the World Economic Forum (WEF)” (Debi Kar, 2002). *********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar