Selasa, 17 Juni 2014

Peasant vs Farmer


Dalam literatur lama, dibahas dengan serius siapa “peasant” dan siapa “farmer”. Membandingkan petani kecil dengan petani besar, tidaklah kongruen dengan membandingkan antara peasant dengan farmer. Wilayah pembentukannya berbeda sehingga alam yang membentuknya berbeda pula. Pada yang pertama, kesadaran adanya “petani kecil” lahir setelah konsep “petani besar” dan pertanian modern ada. Dunia akademis yang telah “melahirkan” mereka, walau faktanya sejak dulu sudah eksis.  Sementara pada peasant vs farmer beda. Keberadaan peasant telah dikenali dan dipahami terlebih dahulu, baru kemudian farmer. Sementara kalangan ekonomi hanya membagi petani atas skalanya saja: petani besar dan petani kecil.

Ada perdebatan yang cukup dalam tentang bagaimana sesungguhnya antara peasant dan farmer. Cukup berat usaha yang telah dilakukan untuk membangun pengetahuan apa yang dimaksud dengan peasant tersebut. Menurut Wolf, seorang antroplog, peasant adalah suatu kelompok masyarakat dengan kegiatan utama bertani, sebagai bentuk transisi antara masyarakat primitif (tribe) ke masyarakat modern. Tampak bahwa ia menggunakan pendekatan evolutif dalam pengkategorian ini. Merujuk pada kalangan antropologi dan sosiologi, kita akan temukan ada banyak ragam arti “petani” yang pernah dikemukakan. Menurut Kurtz (2000), ada  empat dimensi pokok yang diacu dalam beragam kombinasi oleh pakar berbeda-beda dalam upaya mendefinisikan arti petani (sebagai “peasant”). Ada lima dimensi - dan lima kelompok ahli -  berbeda yang digunakan untuk melihat petani, yaitu: yang melihat petani sebagai pengolah tanah di pedesaan (“rural cultivators”) dengan berpegang pada “teori pilihan rasional”; dimensi yang melihat “komunitas petani”sebagai “lawan dari pola budaya “urban”; petani merupakan elemen pokok yang menghidupi komunitas desa meskipun mereka tersubordinasi oleh kekuasaan luar;  dari pengikut Marx yang melihat petani sebagai pihak yang menguasai dan memiliki tanah; serta para ahli yang mengacu pada keempat dimensi sekaligus mengikuti teladan Max Weber. Contoh ahli untuk tiap kategori secara berturut-turut adalah Samuel L. Popkin, Robert Redfield, James C. Scott, E. Wolf, dan Moore.

Peasant” dan “farmer”  memiliki konotasi dan atribut yang sangat berbeda. Secara mudahnya, “peasant” adalah gambaran dari petani yang subsisten, sedangkan “farmer” adalah petani modern yang berusahatani dengan menerapkan teknologi modern serta memiliki jiwa bisnis yang sesuai dengan tuntutan agribisnis. Upaya merubah petani dari karakter peasant menjadi farmer itulah hakekat dari pembangunan atau modernisasi.

Perbedaan ciri antara peasant dan farmer

Peasant
Farmer
 
Adalah petani kecil, para penyewa tanah (tenants),  penyakap (sharecroppers), serta buruh tani dan petani tuna kisma. Dalam kebijakan formal pemerintah mereka tidak “diurus”, bantuan pun mereka jarang dapat karena mereka tidak masuk kelompok tani.
 
Petani pemilik, pemilik tanah yang tidak harus bertani secara langsung. Mereka bertani dengan menggunakan logika bisnis.
Mereka mengelola pertanian subsisten
Mengelola pertanian komersial dengan orientasi bisnis
Tujuan bertani utamanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, sisanya baru dijual. Mereka menanam padi yang rasa nasinya mereka senangi, meskipun di pasaran kurang laku.
Bertani untuk memenuhi kebutuhan pasar, sehingga apa yang ditanam dan bagaimana kualitas yang akan diproduksi sesuai dengan kemauan konsumen.
Terdapat di Asia dan Afrika, dan umumnya pada negara sedang berkembang yang reforma agrarianya tidak berjalan
Mereka ada di Eropa dan negara maju lainnya. Menguasai lahan yang luas-luas, menggunakan teknologi tinggi, dan mesin-mesin.
Mereka ingin dimajukan menjadi petani modern, karena dianggap aib bagi negara.
Petani jenis ini membanggakan negaranya

 

Literatur lain menyebut peasant sebagai farmhands, growers, sharecoppers, sharefarmers, smallholders, tenant farmer, husbandman, granger, dan sodbuster. Meskipun berada pada level bawah, sesungguhnya merekalah yang menggerakkan pertanian. Kultur yang melekat pada peasant biasanya adalah sikap kerjasamanya satu sama lain, usahatani kecil, dan menggunakan tenaga keluarga sendiri (Stefan, 1997). Saat ini, petani yang berkarakter peasant masih tetap eksis.  Selaras dengan makna dari peasant, kita mengenal istilah “petani subsisten”. Petani subsisten (subsistence farmer) adalah mereka yang “… earns very little from his farming activities”. Aktifitas usahatani semata-mata adalah untuk konsumsi  sendiri.  Dalam konsep “petani subsisten dipercaya bahwa suatu saat mereka akan meninggalkan  usahatani tersebut jika ada peluang lain.

Satu gambaran tentang masyarakat petani yang perlu dipelajari adalah tulisan Chayanov. Menurut Chayanov, ciri khas ekonomi rumah tangga petani adalah penggunaan tenaga kerja keluarga dalam usahatani bukan untuk mengejar produksi (ekonomi kapitalis), namun untuk mencapai kesejahteraan bagi anggota rumah tangga. Dalam bentuk ini, unsur-unsur biaya produksi dinyatakan dalam unit-unit yang tidak dapat diperbandingkan dengan apa yang terdapat dalam perekonomian kapitalis. Intinya adalah, bahwa untuk memahami, menganalisis, maupun mengembangkan petani haruslah bertolak dari pandangan yang khusus. Jika kita terima pandangan ini, berarti kita harus mengembangkan “ilmu ekonomi pertanian” yang tidak merupakan turunan dari “ilmu ekonomi industri”.

Ukuran rasionalitas juga digunakan untuk membedakan antara “peasant” (petani yang subsisten) dan “farmer” (petani modern yang berjiwa bisnis). Upaya merubah petani dari karakter peasant menjadi farmer inilah hakekat dari pembangunan atau modernisasi dalam bidang pertanian. Di dalamnya tercakup upaya menanamkan konsep dan prinsip rasional ke dalam diri petani. Salah satu ciri peasant adalah adanya hubungan patron-klien dalam masyarakatnya, dimana petani kaya menjadi patron, dan petani kecil adalah klien yang ada dalam posisi tersubordinasi (Scott, 1994).

Dapat dikatakan, sampai saat ini, upaya mempelajari apa yang dimaksud dengan “petani” belumlah selesai. Perdebatan tersebut timbul disebabkan pula karena perbedaan metodologi dalam mempelajarinya. Selain itu, sikap kita yang suka berfikir hitam putih pun perlu kita tanyakan ulang. Apakah peasant memang harus disingkirkan? Apakah tidak mungkin farmer tetap berjalan seiring dengan peasant? *******

*****

3 komentar:

  1. terima kasih untuk materinya,,,,,,,materi ini dapat membantu saya dalam menyelesaikan tgs kuliah....

    BalasHapus
  2. Terimakasih, bantu banget buat tugas kuliah^^

    BalasHapus