Kamis, 23 April 2020

Buku (draft) "Bertani dan berdagang secara Islami"


Bapa Ibu dan rekan-rekan yang baik,
Assalammualaikum wr wb.

Mohon maaf. Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan kemampuan,  Saya mencoba menyusun draft buku, yang berjudul “BERTANI DAN BERDAGANG SECARA ISLAMI”. Saya menyebut ini merupakan Seri Buku “Sosial Ekonomi Pertanian Islam”. Sungguh sebutan yang gagah ya, Hehe.

Kenapa gagah? Ya, karena sampai hari ini rasanya objek ini belum menjadi diskursus masif baik di level domestik maupun global. Maka, jika kita cari di jagad google belum ketemu dengan mudah frasa-farasa “Ekonomi Pertanian Islam”, “Sosial Ekonomi Pertanian Islam”,  atau in English “Islamic Agriculture Economy”,   “Islamic Agriculture Socio-economic”, “Islamic food economy”, “Islamic food security”, “Islamic land reform”, “Islamic agrarian reform” dan sejenisnnya.

Namun Bapa Ibu, walau sudah Saya kerjakan sekian tahun, draft ini masih sangat lemah. Maklumlah, ilmu agama Saya ga bagus. Bahan-bahan buku ini saya ambil dari berbagai referensi, utamanya dari internet dan buku serta jurnal-jurnal. Banyak referensi yang belum saya track ke sumber asli nya, maklumlah Saya ga ngerti blas bahasa Arab.

Saya merasa semangat untuk segera mendraftkan buku ini, gegara melihat respon dan dukungan yang sangat mengharukan dari teman-teman di status FB Saya (https://id-id.facebook.com/syahyuti.sibuyuang)

Buku ini lebih sebagai manual book, yang bisa dibaca dan diaplikasikan langsung di lapangan. Rekan sedulur petani-petani dan para pedagang pengumpul diharapkan bisa memahami narasi di buku ini dengan mudah, dan bisa menerapkan nya sehari-hari.  Jika praktek bertani kita, terutama hal muamalah-nya belum pas, yuk mari kita luruskan. Demi ridho Allah SWT tentunya. Aamiin.

Nah, sebelum dicetak dan dipublish, Saya minta tolong kepada Bapa Ibu dan Rekan yang punya waktu untuk membaca, mengkritisi, melengkapi, meluruskan, dan menyempurnakan draft buku ini. InsyaAllah segala bantuan Bapa Ibu dan Rekan menjadi amal soleh dan akan dibalas dengan pahala yang sangat banyak dari Allah SWT. Aamiin.

Link draft buku ini ada disini:

atau disini:


Menyusun dan mendiskursuskan buku ini tentu bukan kerjaan mudah. Dan Saya tidak akan menanggung sendiri tugas ini. Saya, Anda dan Bapak Ibu semua akan bersama-sama memikirkan, mendiskusikan, mengkonstruksi, dan mempublikasikan nya secara lebih luas.

Demikian kira-kira. Jika berkenaan, mohon boleh menyampaikan masukan ke email berikut: yutisyahyuti@gmail.com

Dan silahkan draft buku ini di SHARE ke sesiapa saja yang kira-kira berminat, teman-teman atau grup-grup WA, agar ini menjadi viral, rame, dan kita kembangwujudkan bersama-sama. Terima kasih, hatur nuhun pisan.

Bogor 24 April 2020

(SYAHYUTI)

Kamis, 21 Desember 2017

Agricultural Development versus Rural Development



In Indonesia, agricultural and rural development are the same. Rural development is agricultural development, and vice versa. This is not the case. Both are different. The approaches and forms of activities are run differently. Indeed many departments in some countries bring together agricultural affairs with rural development in one organization

The seminar entitled "The Future of Small Farms" was conducted on 26-29 June 2005 by the International Food Policy Research Institute (IFPRI) and the Overseas Development Institute (ODI). There is a sub-chapter in the proceedings of "Beyond Agricultural Production to the Importance of the Rural Economy as a Whole". Here, agricultural development is seen as a key component in rural development. The point is how to facilitate the transition from rural-based small farming to rural economies with diverse economic resources, able to compete in international markets, and more dynamically.


In the OECD book (2010: "Agricultural Policies and Rural Development: a Synthesis of Recent OECD Work"), it is mentioned that rural development has a wide and diverse connotation, and the term "rural development policy" is often reversed with the concept of "regional policy". Rural development is interpreted as an issue of economic growth. Some countries have made agriculture a central business and some are not.

In terms of integration between rural development and regional development policy, Norway and Switzerland integrate it, whereas in Australia and Europe generally separates it. While between rural and agricultural development, Australia and the United States, for example, separated it, but in Norway it was united. Another case, Japan makes agricultural development a vehicle for running rural development (OECD, 2010). The focus of agricultural development is to improve the business skills for farmers facing global and climate pressures such as Australia, Canada and the US. But in Europe generally includes agricultural investments, processing industries, environmental management, animal health, food quality and safety, and maintaining traditions.

Comparison between agricultural development and rural development


Agricultural development

Rural development

Aims to produce agricultural commodities to meet national needs, manage natural resources, and prosper farmers who do it.


Aims to improve the quality of life of rural communities. In connection with efforts to improve the quality of life in the countryside and economic welfare for those who live in the countryside. Rural development has traditionally attempted to exploit natural resources, in the form of agriculture and forestry. Currently developing into rural and tourism industries.
Influenced by climate, culture and technology. The required science is the biology of plants and animals, soil and climate, as well as socioeconomic.

It has an inherent character with geographical location. The fields of science used are economic, social, development and political management.
The focus is on improving the skills of agribusiness, agricultural investment, agri-food industry, environmental management, animal welfare, quality and food security, and preservation of cultural heritage.
The object is the provision of physical and social infrastructure, educational facilities, health, and settlement.

Our knowledge of agricultural development is currently influenced by industry perspectives. We are trying to apply the industry's way of working and want its products to be like industrial products (uniform).
Influenced by the city's biased perceptive. The village was built in the hope of a city-like look.
Methods and analysis used are the analysis of cultivation, trading system results, profits, organizing farmers, and others.
The study methods used are PRA (Participatory Rural Appraisal) and RRA (Rapid Rural Appraisal).
It used to be the amount of production, productivity, and labor productivity. Now also consider environmental health, biodiversity, and healthy food.
In the past, the size of the economy was mainly the income of the rural population. It has also considered the environment, quality of life, and changes in a more equitable economic structure.

*****





Kamis, 26 Januari 2017

Organic Food Vs Sustainable Food

“Keberlanjutan” dan “organik” rupanya tidaklah pula sama. Menurut National Organic Program (NOP), tidak ada jaminan bahwa petani organik atau produksi makanan organik akan mengikuti eco-minded practices. Karena itu, berbeda pulalah apa yang dikenal dengan organic food dengan sustainable food. Keduanya tetap saya sampaikan dalam bahasa Inggris, karena istilah untuk sustainable food belum dikenal. Kita belum pernah dengar istilah “pangan berkelanjutan” atau “pangan lestari”.

Pangan organik tentu dihasilkan dari praktek pertanian organik, demikian pula untuk sustainable food. Jadi, meski ini membandingkan produksinya, namun sejatinya adalah membandingkan praktek pertaniannya. Keberlanjutan merupakan filosofi bahwa ini adalah semangat melindungi planet bumi dengan tidak merusak lingkungan.

Perbedaan antara organic food dengan sustainable food
Organic food
Sustainable food

Pangan yang diproduksinya disertai sertifikasi atau label

Tidak ada label pada kemasannya
Lebih sebagai hal teknis
Lebih filosofis, namun juga observable dan measurable
Indikatornya adalah pada input yang digunakan yang harus merupakan input organik
Indikator pengukurannya adalah keuntungan ekonomi, keuntungan sosial untuk komunitas, dan konservasi lingkungan
Tidak memiliki panduan yang ketat dalam hal penggunaan air
Lebih irit air, dan melakukan “konservasi air”
Bisa saja menggunakan lahan lebih banyak dan  luas, karena ukuran lahan tidak menjadi syarat dalam kebijakan NOP.
Skala usaha yang kecil merupakan cirinya. Mungkin di halaman berupa verticle planting, juga lebih intensif dimana ternak diintegrasikan dengan tanaman di lahan yang sempit.
Bisa saja masih menggunakan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan secara masif.
Menolak dengan keras penggunaan energi yang tidak terbarukan. Berusaha melakukan konservasi energi, dan berupaya mendorong energi alternatif misalnya angin.
Sertifikasi organik tidak mencakup penggunaan fossil fuel dalam produksi dan transportasi
Rendah emisi.
Bisa diproduksi di tempat yang jauh dari konsumen. Perlu traktor, mesin pemanen, lalu diangkut dengan ojek, truk, kapal, gudang berpendingin dengan listrik besar, dst.
Jarak lahan ke mulut (land to mouth) sangat pendek. Karena umumnya ditanam di pekarangan dan lahan di belakang rumah sendiri. Petani kecil mempraktekkan ini.
Makanan organik tidak mengatur sampai ke penggunaan kemasan.
Kemasannya mestilah eco-friendly. Tidak boleh pakai plastik, karena pembuatan plastik tidak ramah lingkungan, dan bahannya haruslah 100% recyclable.
Tidak mengatur bagaimana memperlakukan ternak.

Peternak harus memperhatikan kesejahteraan ternak (the well-being of livestock). Misalnya harus menyediakan ruang terbuka yang cukup, kandang yang bersih, rumput yang segar, dll.  
Masih berkutat pada urusan farming. Sertifikasi organik NOP misalnya tidak mengatur petani dan perusahaan dalam hal “sustainably and ethically”. Perusahaan misalnya tidak diminta untuk menerapkan paperless di kantor, insentif untuk transportasi hemat bahan bakar, dan kondisi kerja yang adil  bagi buruh.
Beyond basic farming. Mengatur sampai ke manajemen bertani, perusahaan, dan pilihan gaya hidup. Harus lah eco-friendly dalam segala aktivitasnya, tidak sekedar bagaimana menanam dan memeliharanya saja.


Pertanian berkelanjutan menggunakan air lebih sedikit dan efisien atau melakukan “konservasi air”. Metodenya di antaranya adalah menggunakan air untuk beberapa tanaman sekaligus, menanam tanaman tahan kekeringan (drought-tolerant crop), atau menerapkan sistem irigasi yang menekan penggunaan air. ********



Makanan Non Organik vs Organik

Dipercaya selama ini bahwa makanan organik lebih sehat. Namun, satu penelitian di Stanford University mengungkapkan bahwa makanan organik tak lebih sehat dari nonorganik. Dilansir oleh Genius Beauty, para ilmuwan melakukan penelitian terhadap buah-buahan organik dan nonorganik, sayur-sayuran, gandum, daging, ayam dan burung, telur, serta susu. Dilaporkan bahwa mereka tidak menemukan perbedaan antara makanan konvensional dengan makanan organik. Mereka tidak menemukan bukti bahwa makanan organik lebih bergizi atau kurang berbahaya bagi kesehatan. Jumlah vitamin dan nutrisi yang terkandung di dalamnya sama seperti pada produk-produk lain, kecuali untuk fosfor. Dalam makanan konvensional pun kandungannya tidak melebihi batas normal.

Sementara, kantor Food And Drug Administration - BPOM-nya AS - juga menemukan bahwa bahan makanan organik tak lebih bergizi dari yang non organik. Tak ditemukan perbedaan jumlah vitamin dan nutrisi di antara dua jenis pangan ini. Bahan makanan organik memang sejatinya bebas dari pestisida, tetapi tidak lebih bernutrisi. Ketua tim peneliti, Crystal Smith-Spangler yang telah mempelajari sekitar 200 hasil studi terkait, melaporkan bahwa sayuran dan daging organik secara umum tidak lebih baik dari makanan non organik untuk kandungan vitamin dan nutrisi. Keunggulan makanan organik adalah tidak adanya paparan pestisida dan bakteri yang resisten antiobiotik. Makanan yang diteliti dalam bentuk buah-buahan, sayuran, biji-bijian, daging, telur unggas, dan susu.

Standar yang ditetapkan departemen pertanian di AS adalah, setiap peternakan organik harus menghindari penggunaan pestisida dan pupuk organik, hormon, dan antibiotik. Sapi-sapi harus punya akses ke padang rumput saat musim merumput tiba. Namun, tak ada perbedaan dalam jumlah vitamin-vitamin dalam tanaman atau daging hewan organik dibandingkan pangan non organik. Satu-satunya perbedaan adalah level fosfor yang sedikit lebih banyak pada produk makanan organik.  Sementara, satu studi kecil menemukan susu dan ayam organik juga mengandung lebih banyak asam lemak omega-3. 

Perbedaan makanan non organik dengan organik menurut riset
Makanan non organik
Makana organik

Lebih dari sepertiga bahan makanan non organik terdeteksi mengandung residu pestisida

Yang terdeteksi hanya 7 persen
Pada daging ayam dan babi yang non organik, persentase kemungkinan mengandung bakteri resisten antibiotik mencapai 33 persen
Kandungan fosfor sedikit lebih tinggi
Terpapar pestisida dan bakteri yang resisten antiobiotik
Tidak ditemukan pestisida dan bakteri yang resisten antiobiotik


Bahan makanan organik memiliki kelebihan rendah kandungan pestisida, namun pada dasarnya kandungan vitamin dan nutrisinya relatif sama. Banyak orang beranggapan makanan organik lebih baik untuk kesehatan dan lingkungan, karena para petani dan peternak organik menggunakan pupuk kandang atau kompos, menggunakan tanah yang bebas kimia, dan memberikan makanan organik dan tidak menggunakan obat untuk hewan ternaknya.


Jadi, pertanian organik mungkin harus dipandang sebagai lebih kepada kesehatan lingkungan dibandingkan untuk kesehatan konsumen. Tanah dan air menjadi lebih sehat, meskipun buah dan sayur yang dipanen tidak banyak berbeda kandungan gizinya. Meski kandungan gizinya sama, tapi bahwa makanan organik tidak terpapar residu pesitisida mestilah dipandang sebagai sebuah point penting. *******